2/12/2012

Hati Nurani


RANGKUMAN
Hati Nurani sebagai Fenomena Moral

1.    Tiga Contoh
Manusia pasti memiliki pengalaman tentang hati nurani dan mungkin pengalaman itu merupakan perjumpaan paling jelas dengan moralitas sebagai kenyataan. Sulit sekali kita berterus terang menyingkap dimensi etis dalam hidup kita. Karena  pengalaman tentang hati nurani itu merupakan jalan masuk yang tepat untuk suatu studi mengenai etika. Berikut ini ada tiga contoh yang berbeda tentang pengalaman hati nurani :

  • Seorang hakim telah menjatuhkan dalam suatu perkara pengadilan yang penting. Malam sebelumnya ia didatnagi oleh pihak terdakwa yang menawarkan sejumlah uang kepadanya jika si hakim bersedia memenagkan pikahnya . Hakim mengetahui bahwa terdakwa itu bersalah. Namun ia tergiur dengan uang itu, shingga ia menerima tawaran untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum. Dengan uang tersebut si hakim dapat menyekolahkan anaknya ke luar negri dan membeli rumah yang ia idamkan. Namun si hakim tidak bahagia. Dalam hatinya ia merasa bersalah dan gelisah. Ia malu atas pebuatannya yang telah melanggar sumpah saat ia dilantik.
  • Thomas Grissom adalah seorang ahli fisika berkebangsaan Amerika Serikat. Selama 15 Tahun ia bekerja keras mengembangkan  dan membangun generator neutron. Karena terlalu bersemangat ia lupa dengan fungsi utama dari benda ciptaannya tersbut, yaitu menghasilkan senjata-senjata nuklir. Namun hati nuraninya terganggu setelah membaca sebuah buku, dalam buku itu di jelaskan bahwa “ Bila orang mempersiapkan perang, sudah ada perang “. Ia pun memutuskan untuk berhenti bekerja di Laboratorium Nasional Amerika , karena ia sudah tidak mau bekerja sebagai pembantu perang nuklir. setelah berunding dengan istrinya ia pun berhenti dari pekerjaanya dan menjadi dosen di sebuah Universitas, walaupun dengan gaji yang tidak terlalu banyak.
  • Dalam sebuah kereta berkuda Arjuna menuju tempat pertempuran bersama Khrisna. Namun ia melihat saudara-saudaranya di antara tentara yang menjadi lawannya. Melihat keadaan ini ia menjadi sedih. Ia tidak tega berperang melawan kerabat dan orang yang akrab dengannya. Dan ia pun memutuskan untuk tidak berperang.



2.      Kesadaran dan Hati Nurani
Dengan hati nurani kita maksudkan penghayatan tentang baik atau buruk berhubungan dengan tin gkah laku konkret kita. Hati nurani ini memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu kini dan di sini. Tidak mengikuti hati nurani ini berarti menghancurkan integritas pribadi kita dan mengkhianati martabat terdalam kita.
Hati nurani berkaitan dengan kenyataan bahwa manusia mempunyai kesadaran. Untuk mengerti hal ini perlu kita bedakan antara pengenalan dan kesadaran. Kita mengenal ,bila kita melihat. Tetapi pengenalan ini tidak merupakan monopoli manusia. Seekor binatang pun bisa mendengar bunyi atau mencium bau busuk. Dengan kesadaran kita maksudkan kesanggupan manusia untuk mengenal dirinya dan karena itu berefleksi tentang dirinya.
Untuk menunjukkan kesadaran, dalam bahasa latin dan bahasa-bahasa yang diturunkan, dipakai kata conscientia. Kata itu berasal dari kata kerja scire (mengetahui) dan awalan con- (bersama dengan, turut). Conscientia berarti “turut mengetahui”. Dalam bahasa inggris : consciousness = kesadaran; conscience = hati nurani. Dalam bahasa perancis, umpamanya, kata yang sama, conscience, berarti baik kesadaran maupun hati nurani. Hati nurani merupakan semacam “saksi” tentang perbuatan-perbuatan moral kita.

3.      Hati Nurani Retrospektif dan Hati Nurani Prospektif
Dapat dibedakan dua bentuk hati nurani :
  • Hati nurani retrospektif : memberikan penilaian tentang perbuatan-perbuatan yang telah berlangsung di masa lampau. Ia memyatakan bahwa perbuatan yang telah dilakukan itu baik atau tidak baik. Hati nurani dalam arti retrospektif menuduh atau mencela, bila perbuatannya jelek; dan sebaliknya, memuji atau memberi rasa puas, bila perbuatannya dianggap baik. Jadi, hati nurani ini merupakan semacam instansi kehakiman dalam batin kita tentang perbuatan yang telah berlangsung.
  • Hati nurani prospektif : melihat ke masa depan dan menilai perbuatan-perbuatan kita yang akan datang.
Pembedaan antara hati nurani retrospektif dan hati nurani prospektif ini bisa menampilkan kesan seolah-olah hati nurani hanya menyangkut masa lampau atau masa depan. Padahal, hati nurani dalam arti yang sebenarnya justru menyangkut perbuatan yang sedang dilakukan kini dan disini. Dapat disimpulkan bahwa hati nurani terutama berbicara dalam suatu orientasi ke masa lampau atau suatu orientasi ke masa depan: ke perbuatan yang sudah berlangsung atau ke perbuatan yang akanberlangsung lagi.


4.      Hati Nurani Bersifat Personal dan Adipersonal
Hati nurani bersifat personal, artinya selalu berkaitan erat dengan pribadi bersangkutan. Alasan lain lagi untuk mengatakan bahwa hati nurani bersifdat personal, yaitu hati nurani hanya berbicara atas nama saya. Hati nurani hanya memberi penilaiannya tentang perbuatan saya sendiri. Di samping aspek personal, hati nurani menunjukkan juga suatu aspek adipersonal. Selain bersifat pribadi, hati nurani juga seolah-olah melebihi pribadi kita, seolah-olah merupakan instansi di atas kita.
Hati nurani tidak melepaskan kita dari kewajiban untuk bersikap kritiss dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan kita secara obyektif. Tidak dapat dikatakan bahwa hati nurani merupakan hak istimewa orang beragama saja. Setiap orang mempunyai hati nurani karena ia manusia.

5.      Hati Nurani sebagai Norma Moral yang Subyektif
Dalam filsafat dewasa ini sudah terbentuk keyakinan bahwa manusia tidak bisa dipisahkan ke dalam pelbagai faungsi atau daya. Kita harus bertolak dari kesatuan manusia, dimana pelbagai fungsi dapat dibedakan tapi tidak boleh dipisahkan. Dalam hati nurani pula memainkan peranan baik perasaan maupun kehendak maupun juga rasio. Tapi terdapat suatu tendensi kuat da;lam filsafat untuk mengakui bahwa hati nurani secara khusus harus dikaitkan dengan rasio. Hati nurani juga sangat konkret sifatnyadan mengatakan kepada kita apa yang harus dilakukan kini dan disini. Putusan hati nurani “mengkonkretkan” pengetahuan etis kita yang umum. Dalam Deklarasi Universal tentang hak-hak asasi manusia (1948) disebut juga “hak atas kebebasan hati nurani” (pasal 18). Konsekuensinya bahwa Negara harus ,menghormatri putusan hati nurani para warganya, bahkan kalau kewajiban itu menimbulkan konflik dengan kepentingan lain. Contoh terkenal adalah konflik yang sering dialami di Negara-negara yang mempraktekkan wajib militer. Disana tidak jarang ada orang muda yang menolak untuk memenuhi wajib militer dengan alasan hati nurani. Tapi sekarang kebanyakan Negara modern mengakui hak orang muda untuk menolak masuk tentara karena alasan hati nurani.
Bila orang memilih alternative ini kendati “rugi” waktu atau uang yang dialaminya itu membuktikan hati nuraninya dengan ikhlas dan tidak mencari alasan yang dibuat-buat. Jika dalam bab 5 kita akan membahas masalah hak, tentu hak untuk mengikuti hati nurani akan disebut lagi. Dari semuanya ini dapat disimpulkan bahwa hati nurani mempunyai kedudukan kuat dalam hidup moral kita. Putusan hati nurani adalah norma moral yang subyektif bagi tingkah laku kita. Hati nurani memang membimbing kita dan menjadi patokan untuk perilaku kita, tapi yang sebenarnya diungkapkan oleh hati nurani bukan baik buruknya perbuatan itu sendiri, melainkan bermasalah tidaknya si pelaku. Bila suatu perbuatan secara obyektif baik, tapi suara hati menyatakan bahwa perbuatan itu buruk, maka dengan melakukan perbuatan itu orang bersangkutan toh secara moral bersalah. Hati nurani adalah norma perbuatan kita pertama-tama sejauh menyangkut soal kebersalahan. Hati nurani selalu diikuti, juga kalau secara obyektif ia sesat. Akan tetapi, manusia wajib juga mengembangkan hati nurani dan seluruh kepribadian etisnya sampai menjadi matang dan seimbang.

6.      Pembinaan Hati Nurani
Hati nurani bersifat subyektif. Hati nurani bisa menjadi kedok untuk melakukan rupa-rupa kejahatan. Kita tidak bisa melihat kedalam hati nurani orang lain; kita hanya tahu fdengan pasti tentang hati nurani kita sendiri, yang sekali lagi belum tentu benar juga. Apalagi, mereka lanjutkan, problem-problem moral pada umumnya begitu sulit dan kompleks, sehingga ucapan subyektif dari hati nurani kita tidak merupakan pemandu terpercaya yang dengan aman mengantar kita ke kebenaran etis. Hati nurani tidak pernah mengganti usaha kita untuk mempelajari dengan teliti serta mendalam prinsip-prinsip dan norma-norma moral yang harus mengarahkan tingkah laku kita. Etika sebagai ilmu tidak menjadi mubazir dengan adanya hati nurani. Etika harus berusaha keras untuk mencari kepastian ilmiah dan obyektif tentang problem-problem moral yang dihadapi. Ada banyak tipe hati nurani : ada yang halus dan jitu, ada pula yang longgar dan kurang tepat bahkan ada yang tumpul.
Pendidikan di sekolah bertujuan mengembangkan dan mendidik akal budi anak-anak. Memang benar, sekarangf diakui secara umum bahwa pendidikan din sekolah berorientasi eksklusif intelektualistis. Dalam diri anak pun akal budi terintegrasi dengan seluruh kepribadiannya. Pendidikan hati nurani, itu harus dijalankan demikian rupa sehingga si anak menyadari tanggung jawabnya sendiri. Pada mulanya anak kecil hanya bisa dilatih untuk menyesuaikan diri secara lahiriah dengan kehendak para pendidiknya. Dalam keadaan itu ketakutan akan hukuman menjadi motivasi utama untuk mematuhi perintah orang tua. Demikian juga dibidang moral. Anak-anak harus belajar menjalankan kewajiban mereka karena keyakinan, bukan karena paksaan dari luar. Ketakutan akan sanksi yang mewarnai permulaan kehidupan moral, lama kelamaan harus diganti dengan cinta akan nilai-nilai.
Dalam hal ini, kata madinier, kekuatan para orang tua dan pengasuh lainnya ialah bahwa mereka sendiri patuh juga. Mereka tidak memerintahkan semau-maunya, tetapi mentaati sesuatu yang melampaui kemauan mereka sendiri. Kewajiban terhadap hokum moral mengikat semua orang. “Pendidikan hati nurani seolah-olah berjalan dengan sendirinya, bilamana si anak diliputioleh suasana yang sehat serta luhurdan ia melihat bahwa orang di sekelilingnya memenuhi kewajiban mereka dengan seksama dan mempraktekkan keutamaan-keutamaan yang mereka ajarkan”. Pendidikan hati nurani tidak membutuhkan  system pendidikan formal, malah lebih baik berlangsung dalam rangka pendidikan informal, yaitu keluarga. Sedangkan pendidikan akal budi sulit untuk dijalankan di luar rangka pendidikan formal.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More